GUMlTUY5BUM0GfA6BUWoGpdlGd==
0
    0
      Breaking News

      Jadi Tuan Rumah Muktamar ke-35 NU, Sejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang

      Sejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, dari Mbah Shoichah, Pondok Selawe, KH Wahab Chasbullah hingga menjadi pusat pendidikan Islam

       


      ARROSYID.OR.ID - Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang merupakan salah satu pesantren bersejarah di Jawa Timur yang perjalanan panjangnya tidak dapat dipisahkan dari perkembangan pendidikan Islam, tradisi pesantren, dan perjuangan kebangsaan. 

      Masyarakat lebih akrab menyebutnya sebagai Pondok Pesantren Tambakberas, sedangkan nama Bahrul Ulum kemudian menjadi identitas resminya.

      Sejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang bermula dari perjuangan Kiai Abdussalam atau Mbah Shoichah yang membuka kawasan Gedang dan merintis pusat pendidikan keagamaan. 

      Dari sebuah padepokan sederhana yang dikenal sebagai Pondok Selawe atau Pondok Telu, lembaga ini berkembang melalui beberapa generasi ulama hingga menjadi kompleks pesantren dengan berbagai jenjang pendidikan.

      Berdasarkan bahan sejarah yang tersedia, perkembangan tersebut berlangsung melalui sejumlah fase penting: masa perintisan Mbah Shoichah, kepemimpinan Kiai Utsman dan Kiai Said, masa Kiai Chasbullah, pembaruan pendidikan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah, pengembangan madrasah dan pendidikan tinggi, hingga lahirnya sistem kepemimpinan kolektif.

      Asal Usul Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas

      Jika membahas sejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, pembahasan tidak cukup hanya dimulai ketika nama “Bahrul Ulum” digunakan. Akar sejarahnya jauh lebih tua.

      Sumber sejarah pesantren menyebut bahwa rintisan awalnya bermula sekitar tahun 1825 di kawasan Gedang. Mbah Shoichah atau Kiai Abdussalam membuka kawasan yang sebelumnya berupa hutan dan secara bertahap mengubahnya menjadi lingkungan permukiman. 

      Setelah proses pembukaan lahan berlangsung bertahun-tahun, sekitar 1838 didirikan tempat untuk berdakwah yang terdiri atas langgar, bilik santri, dan tempat tinggal sederhana.

      Situs resmi sejarah Bahrul Ulum juga menempatkan Mbah Shoichah sebagai tokoh penting dalam rintisan awal pesantren. 

      Dalam narasi resmi tersebut, padepokan yang dirintisnya dikenal sebagai Padepokan Selawe atau Pondok Telu, sebelum perkembangan pesantren berlanjut melalui Kiai Utsman dan Kiai Said.

      Dengan demikian, sejarah pesantren Tambakberas merupakan proses yang berlangsung lintas generasi, bukan sebuah lembaga yang muncul secara tiba-tiba dalam satu periode.

      Masa Mbah Shoichah dan Pondok Selawe

      Pada masa awal, pesantren tersebut masih sangat sederhana. Nama Pondok Selawe dikaitkan dengan jumlah santri yang sekitar 25 orang. Istilah “selawe” sendiri berarti dua puluh lima dalam bahasa Jawa.

      Struktur pesantren ketika itu juga masih mengikuti pola tradisional. Terdapat kiai sebagai pengasuh, santri sebagai penuntut ilmu, tempat tinggal sederhana, langgar atau masjid, serta pengajaran keislaman.

      Kelima unsur tersebut kemudian dikenal sebagai elemen penting dalam tradisi pesantren: kiai, santri, pondok, masjid, dan pengajaran kitab klasik atau kitab kuning.

      Masa ini menjadi fondasi penting karena pendidikan agama tidak hanya dilakukan sebagai kegiatan belajar, tetapi juga membentuk komunitas masyarakat di sekitar pesantren.

      Perkembangan pada Masa Kiai Utsman dan Kiai Said

      Setelah Mbah Shoichah memasuki usia lanjut, pengelolaan pesantren diteruskan oleh dua menantunya, yaitu Kiai Utsman dan Kiai Said. Keduanya memiliki corak pengajaran yang berbeda.

      Kiai Utsman lebih menekankan aspek thoriqoh, sedangkan Kiai Said lebih banyak mengembangkan kajian yang berhubungan dengan syariat. 

      Karena perbedaan orientasi tersebut, dalam perkembangan berikutnya muncul penyebutan Pondok Thoriqot dan Pondok Syari’at.

      Setelah keduanya wafat, kesinambungan pesantren berlangsung melalui jalur keluarga dan murid.

      Sebagian santri Kiai Utsman kemudian mengikuti Kiai Asy’ari ke Desa Keras yang kelak berkembang menjadi Pondok Pesantren Tebuireng. Sementara itu, pesantren Kiai Said diteruskan oleh putranya, Kiai Chasbullah.

      Hubungan antargenerasi tersebut menunjukkan bahwa sejarah pesantren-pesantren besar di Jombang memiliki keterkaitan genealogis dan intelektual yang kuat.

      Masa Kiai Chasbullah dan Munculnya Nama Tambakberas

      Di bawah kepemimpinan Kiai Chasbullah, pesantren berkembang semakin pesat dan lebih dikenal masyarakat sebagai Pondok Tambakberas.

      Salah satu cerita yang berkembang mengenai asal nama Tambakberas berkaitan dengan kondisi ekonomi Kiai Chasbullah yang dikenal memiliki lahan pertanian luas. 

      Hasil panen padi yang melimpah disimpan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, santri, tamu, dan masyarakat. Besarnya persediaan beras tersebut kemudian dikaitkan dengan penyebutan kawasan sebagai Tambakberas.

      Pada masa ini, pengembangan pesantren juga dilakukan melalui investasi pada pendidikan generasi penerus. Kiai Chasbullah mengirim putra-putranya untuk belajar ke berbagai pesantren, bahkan ke Makkah.

      Langkah tersebut penting karena kelak para penerus membawa gagasan baru untuk mengembangkan sistem pendidikan di Tambakberas.

      Pembaruan Pendidikan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah

      Salah satu tonggak terpenting dalam sejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang terjadi ketika KH Abdul Wahab Chasbullah kembali dari Makkah pada tahun 1914.

      KH Abdul Wahab melakukan pembaruan terhadap sistem pendidikan pesantren. Sistem pembelajaran yang sebelumnya menggunakan pola halaqah mulai diarahkan menuju sistem madrasah yang lebih terstruktur. Pengelolaan madrasah dipercayakan kepada KH Abdurrochim.

      Pada tahun 1915, didirikan madrasah pertama yang dikenal dengan nama Madrasah Mubdil Fan. Pembaruan sistem pendidikan tersebut membuat perkembangan pesantren semakin pesat.

      Perubahan ini menjadi salah satu ciri penting Tambakberas: tradisi pengajaran pesantren tetap dipertahankan, tetapi bentuk kelembagaan pendidikan dapat beradaptasi dengan kebutuhan zaman.

      Setelah Kiai Chasbullah wafat pada 1920, kepemimpinan diteruskan KH Abdul Wahab dengan dukungan KH Abdul Hamid dan KH Abdurrochim. 

      Pembagian tugas juga mulai terlihat. KH Abdul Hamid lebih berkonsentrasi pada pengelolaan pesantren, sedangkan KH Abdurrochim menangani madrasah.

      Lahirnya Nama Bahrul Ulum

      Pertanyaan yang sering muncul ketika membahas sejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang adalah: kapan nama Bahrul Ulum mulai digunakan?

      Berdasarkan bahan sejarah, pada 1965 KH Abdul Wahab Chasbullah memanggil empat santri untuk mengusulkan nama baru bagi Pondok Tambakberas. 

      Empat santri tersebut adalah Ahmad Junaidi, M. Masrur Dimyati, Abdullah Yazid Sulaiman, dan M. Syamsul Huda As.

      Dari proses tersebut muncul tiga alternatif nama:

      • Bahrul Ulum
      • Dahrul Hikmah
      • Mambaul Ulum

      KH Abdul Wahab kemudian memilih Bahrul Ulum, yang bermakna “Lautan Ilmu” atau “Samudera Ilmu”. Nama tersebut mengandung harapan agar Tambakberas menjadi pusat ilmu pengetahuan, terutama ilmu agama Islam.

      Situs sejarah resmi Bahrul Ulum juga menjelaskan bahwa pada masa KH Abdul Wahab, nama Pondok Tambakberas kemudian disempurnakan menjadi Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas.

      Perkembangan Madrasah dan Pendidikan Pesantren

      Perkembangan Bahrul Ulum tidak berhenti pada perubahan nama. Lembaga pendidikan di dalam pesantren terus berkembang.

      Pada masa KH Abdul Fattah, misalnya, didirikan Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah, kemudian berkembang pula pendidikan untuk santri putri. 

      Pada 1950-an berdiri Pondok Pesantren Putri Al-Fathimiyah dan Madrasah Mu’allimin Mu’allimat. Pada 1964, masa studi Madrasah Mu’allimin Mu’allimat dikembangkan dari empat menjadi enam tahun dan berubah menjadi Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Atas.

      Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan pesantren mulai membangun jenjang pendidikan yang semakin sistematis.

      Tidak hanya pendidikan dasar dan menengah, gagasan pendidikan tinggi juga muncul. Pada 1974, KH Abdul Fattah merintis Al-Ma’had Al-Aly. 

      Perkembangan berikutnya menghidupkan kembali lembaga tersebut hingga menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah pada 1985.

      Dengan perjalanan tersebut, Bahrul Ulum kemudian memiliki spektrum pendidikan yang luas, dari pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi.

      Berdirinya Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum

      Perkembangan lembaga yang semakin besar membutuhkan sistem pengelolaan yang lebih terstruktur. Karena itu, pada 6 September 1966, Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum didirikan secara notarial dengan Akta Notaris Nomor 03 Tahun 1966.

      Yayasan tersebut menjadi wadah pengembangan berbagai kegiatan pendidikan dan kepesantrenan.

      Dalam perkembangannya, pengelolaan pesantren tidak lagi hanya bergantung pada satu figur. Struktur organisasi kemudian mencakup Majelis Pengasuh atau Dewan Pembina, Dewan Pengawas, Pengurus Harian, serta berbagai departemen.

      Model ini menjadi bagian penting dari transformasi kelembagaan Bahrul Ulum dari pesantren yang berpusat pada figur kiai menuju organisasi yang memiliki pembagian tugas lebih jelas.

      Kepemimpinan Kolektif dan Perkembangan Modern

      Setelah wafatnya KH M. Najib Wahab pada 20 November 1987, kepemimpinan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum berada di bawah KH M. Sholeh Abdul Hamid. Pada periode ini, sistem pengelolaan semakin mengarah pada kepemimpinan kolektif.

      Kepemimpinan kolektif tersebut memungkinkan tanggung jawab pengembangan pesantren dibagi kepada sejumlah unsur keluarga dan pengelola. Dalam bahan sejarah pesantren, sistem ini dipandang sebagai bagian dari proses kaderisasi dan persiapan kepemimpinan pesantren pada masa mendatang.

      Perkembangan pendidikan juga semakin beragam. Salah satu contohnya adalah Madrasah Al-Qur’an yang dirintis pada 1980 untuk menampung minat santri dalam mempelajari Al-Qur’an dan kitab-kitab salaf.

      Situs sejarah Bahrul Ulum menyebut pesantren ini terus mempertahankan nilai-nilai kepesantrenan sembari melakukan pengembangan sesuai tuntutan zaman.

      Peran Bahrul Ulum dalam Pendidikan Islam dan Kebangsaan

      Sejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang tidak hanya berkaitan dengan pendidikan agama. Pesantren ini juga memiliki hubungan erat dengan perjalanan sosial dan kebangsaan.

      KH Abdul Wahab Chasbullah sendiri merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Nahdlatul Ulama. Pada 1920-an, ia aktif dalam gerakan sosial-intelektual seperti Tashwirul Afkar dan Nahdlatul Wathan, sebelum Nahdlatul Ulama berdiri pada 1926.

      Dalam konteks yang lebih luas, Tambakberas juga menjadi salah satu simpul penting tradisi Islam di Jombang. Hubungan antara pesantren, masyarakat, organisasi keagamaan, pendidikan, dan kehidupan kebangsaan membuat sejarahnya memiliki arti lebih luas daripada sekadar sejarah sebuah lembaga pendidikan.

      Pada 2026, Bahrul Ulum kembali menjadi sorotan nasional setelah diputuskan sebagai lokasi penyelenggaraan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026. 

      Penunjukan tersebut menunjukkan bahwa Tambakberas tetap memiliki posisi penting dalam kehidupan organisasi dan masyarakat Islam Indonesia.

      Kesimpulan

      Sejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang merupakan perjalanan panjang yang berawal dari rintisan Mbah Shoichah di kawasan Gedang sekitar 1825, berkembang menjadi Pondok Selawe atau Pondok Telu, kemudian diteruskan oleh Kiai Utsman dan Kiai Said, hingga berkembang di bawah Kiai Chasbullah sebagai Pondok Tambakberas.

      Tonggak penting berikutnya terjadi pada masa KH Abdul Wahab Chasbullah. Sekembalinya dari Makkah pada 1914, ia melakukan pembaruan sistem pendidikan dari pola halaqah menuju sistem madrasah. Pembaruan tersebut menjadi salah satu fondasi berkembangnya pendidikan formal di lingkungan pesantren.

      Pada pertengahan 1960-an, nama Bahrul Ulum dipilih sebagai identitas baru dengan makna “Lautan Ilmu”. Nama tersebut sekaligus mencerminkan cita-cita agar Tambakberas menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan Islam.

      Perjalanan berikutnya ditandai dengan berdirinya Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum pada 1966, berkembangnya madrasah, pendidikan tinggi, pendidikan Al-Qur’an, serta diterapkannya sistem kepemimpinan kolektif.

      Karena itu, sejarah Bahrul Ulum bukan hanya cerita tentang masa lalu. Ia merupakan gambaran tentang bagaimana sebuah pesantren mampu mempertahankan tradisi keilmuan sekaligus beradaptasi dengan perubahan zaman. 

      Dari sebuah langgar sederhana dan komunitas santri yang kecil, Bahrul Ulum berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang memiliki pengaruh penting di Jombang dan Indonesia.

      FAQ Sejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang

      Kapan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas didirikan?

      Akar sejarah pesantren bermula sekitar tahun 1825 melalui rintisan Kiai Abdussalam atau Mbah Shoichah di kawasan Gedang. Sekitar 1838, berdiri tempat dakwah dan pendidikan yang menjadi cikal bakal perkembangan pesantren.

      Siapa pendiri Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas?

      Tokoh perintis awalnya adalah Kiai Abdussalam atau Mbah Shoichah. Setelah itu, pengembangan pesantren diteruskan oleh generasi berikutnya, termasuk Kiai Utsman, Kiai Said, Kiai Chasbullah, dan KH Abdul Wahab Chasbullah.

      Mengapa disebut Pondok Tambakberas?

      Nama Tambakberas berkembang pada masa Kiai Chasbullah. Salah satu penjelasan yang berkembang mengaitkannya dengan melimpahnya hasil pertanian dan persediaan beras milik Kiai Chasbullah.

      Apa arti Bahrul Ulum?

      Bahrul Ulum berarti Lautan Ilmu atau Samudera Ilmu. Nama tersebut dipilih sebagai harapan agar pesantren menjadi pusat pengembangan ilmu, khususnya ilmu agama Islam.

      Siapa KH Abdul Wahab Chasbullah?

      KH Abdul Wahab Chasbullah merupakan putra Kiai Chasbullah dan salah satu tokoh utama pembaruan pendidikan di Tambakberas. Ia juga dikenal sebagai salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama.

      Apa yang membuat Bahrul Ulum penting dalam sejarah pesantren di Indonesia?

      Bahrul Ulum memiliki sejarah panjang sejak abad ke-19, mengalami pembaruan sistem pendidikan pada awal abad ke-20, mengembangkan madrasah dan pendidikan tinggi, serta memiliki hubungan erat dengan perkembangan tradisi keislaman dan kebangsaan di Indonesia. []

      Baca juga:

      Loading...
      Tambahkan komentar

      0 Komentar

      Tulis komentar
      Next Post
      Next Post

      Info

      Info
      • 59 Street, 06 Lane, Newyork
      • +0123456789
      • info@domainku.com