GUMlTUY5BUM0GfA6BUWoGpdlGd==
0
    0
      Breaking News

      Kisah Pemuda Saleh Terjerumus Maksiat karena Khamar, Pelajaran tentang Bahaya Dosa

      Kisah pemuda saleh yang terjerumus zina dan pembunuhan setelah meminum khamar. Simak hikmah tentang bahaya meremehkan dosa dan godaan maksiat.


      ARROSYID.OR.ID - Dalam kehidupan, seseorang tidak hanya diuji dengan kesulitan, tetapi juga dengan godaan yang datang secara perlahan dan tidak selalu terlihat berbahaya. 

      Ada kalanya sesuatu yang tampak sebagai pilihan paling ringan justru menjadi pintu menuju kesalahan yang lebih besar. 

      Karena itu, menjaga diri dari kemaksiatan bukan hanya tentang menjauhi dosa besar, tetapi juga tentang mengenali dan menutup jalan yang dapat mengantarkan seseorang kepadanya.

      Kisah tentang seorang pemuda yang terjerumus dalam kemaksiatan karena khamar ini menjadi salah satu gambaran penting tentang bahaya tersebut. 

      Kisah ini dinukil dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Adhim karya Imam Ibnu Katsir dan juga tercantum dalam Jami'ul Ushul fi Ahaditsir Rasul karya Imam Majduddin Abus Sa'adat Ibnul Atsir (wafat 606 H), jilid V halaman 103, terbitan Darul Fikr, Beirut, cetakan pertama 1390 H.

      Kisah tersebut memberikan pelajaran mendalam tentang bagaimana seseorang yang dikenal taat pun harus senantiasa waspada terhadap tipu daya kemaksiatan.

      Dikisahkan bahwa pada masa lampau, hiduplah seorang pemuda yang dikenal sangat taat, rajin beribadah, dan senantiasa menjauhi perbuatan maksiat. 

      Ia dihormati oleh masyarakat dan dipandang sebagai sosok yang baik serta dapat menjadi teladan.

      Namun, tanpa sepengetahuannya, seorang wanita yang dikenal sebagai pelacur justru menyimpan keinginan untuk menjerumuskannya.

      Wanita itu kemudian menyusun sebuah tipu daya. Ia meminta seorang budak untuk mendatangi pemuda tersebut dan mengundangnya ke rumah dengan alasan membutuhkan kesaksiannya dalam suatu urusan.

      Karena merasa sedang diminta membantu, pemuda itu pun datang tanpa mengetahui maksud sebenarnya.

      Sesampainya di rumah, keadaan berubah. Wanita tersebut mengunci pintu dan mengungkapkan tujuan sebenarnya. 

      Ia memberikan tiga pilihan kepada pemuda itu: berzina dengannya, membunuh seorang anak kecil, atau meminum khamar. 

      Ketiganya merupakan perbuatan dosa, tetapi pemuda itu berada dalam keadaan terdesak dan merasa harus memilih salah satunya.

      Setelah berpikir, ia menganggap meminum khamar sebagai pilihan yang paling ringan. 

      Ia berharap dengan meneguk minuman tersebut, dirinya dapat terhindar dari zina dan pembunuhan sekaligus segera keluar dari situasi tersebut. 

      Namun, keputusan yang tampaknya kecil itu justru menjadi awal dari musibah yang lebih besar.

      Setelah meminum khamar, akalnya mulai kehilangan kendali. Ia kemudian meminta tambahan minuman hingga akhirnya benar-benar mabuk. 

      Dalam keadaan kesadarannya telah rusak, ia melakukan perbuatan yang sebelumnya berusaha ia hindari. 

      Ia berzina dengan wanita tersebut dan bahkan membunuh anak kecil yang tidak bersalah.

      Betapa tragis perjalanan pemuda itu. Ia datang ke rumah tersebut sebagai seorang yang dikenal taat, tetapi keluar dari sana setelah melakukan dosa-dosa besar. 

      Semua itu bermula dari satu keputusan yang ia kira paling ringan. Dari sinilah kita dapat memahami betapa berbahayanya kemaksiatan ketika seseorang mulai meremehkan pintu masuknya.

      Riwayat Sunan an-Nasa'i:

      اجْتَنِبُوا الْخَمْرَ؛ فَإِنَّهَا أُمُّ الْخَبَائِثِ، إِنَّهُ كَانَ رَجُلٌ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ تَعَبَّدَ، فَعَلِقَتْهُ امْرَأَةٌ غَوِيَّةٌ، فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ جَارِيَتَهَا، فَقَالَتْ لَهُ: إِنَّا نَدْعُوكَ لِشَهَادَةٍ، فَانْطَلَقَ مَعَ جَارِيَتِهَا، فَطَفِقَتْ كُلَّمَا دَخَلَ بَابًا أَغْلَقَتْهُ دُونَهُ، حَتَّى أَفْضَى إِلَى امْرَأَةٍ وَضِيئَةٍ، عِنْدَهَا غُلَامٌ وَزِقُّ خَمْرٍ، فَقَالَتْ: إِنِّي وَاللَّهِ مَا دَعَوْتُكَ لِشَهَادَةٍ، وَلَكِنْ دَعَوْتُكَ لِتَقَعَ عَلَيَّ، أَوْ تَشْرَبَ مِنْ هَذَا الْخَمْرِ كَأْسًا، أَوْ تَقْتُلَ هَذَا الْغُلَامَ، قَالَ: فَاسْقِينِي مِنْ هَذَا الْخَمْرِ كَأْسًا، فَسَقَتْهُ كَأْسًا، قَالَ: زِيدُونِي، فَلَمْ يَرِمْ حَتَّى وَقَعَ عَلَيْهَا، وَقَتَلَ النَّفْسَ، فَاجْتَنِبُوا الْخَمْرَ؛ فَإِنَّهَا وَاللَّهِ لَا يَجْتَمِعُ الْإِيمَانُ وَإدمَانُ الْخَمْرِ إِلَّا لَيُوشِكُ أَنْ يُخْرِجَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ.

      Artinya: "Jauhilah khamar, karena sesungguhnya ia adalah induk dari segala keburukan. Dahulu ada seorang laki-laki dari kalangan umat sebelum kalian yang giat beribadah. Lalu ia ditaksir oleh seorang wanita nakal. Wanita itu mengutus budak perempuannya untuk memanggil lelaki tersebut dengan alasan: 'Kami mengundangmu untuk menjadi saksi.' Lelaki itu pun pergi bersama budak tersebut. Setiap kali ia melewati sebuah pintu, budak itu menguncinya di belakangnya, hingga akhirnya ia sampai kepada seorang wanita cantik yang di sisinya terdapat seorang anak kecil dan sebuah wadah berisi khamar.
      Wanita itu berkata: 'Demi Allah, aku tidak mengundangmu untuk menjadi saksi, melainkan agar engkau berzina denganku, atau meminum segelas khamar ini, atau membunuh anak kecil ini.'
      Lelaki itu berpikir lalu berkata: 'Berikan aku segelas khamar ini saja.' Wanita itu pun menuangkan segelas khamar untuknya. Setelah minum, lelaki itu berkata: 'Tambah lagi!' Ia terus minum sampai mabuk, dan dalam kondisi mabuk itulah ia akhirnya berzina dengan wanita tersebut sekaligus membunuh anak kecil itu.
      Maka jauhilah khamar! Karena demi Allah, tidak akan pernah bisa bersatu antara iman dan kebiasaan meminum khamar (di dalam dada seseorang), melainkan salah satunya pasti akan mengeluarkan yang lain."

      Pesan tersebut menjadi peringatan agar manusia tidak meremehkan sesuatu yang dapat merusak akal dan menghilangkan kendali atas dirinya.

      Kisah ini mengajarkan bahwa tidak semua pilihan yang terlihat paling ringan benar-benar membawa keselamatan. Terkadang, pilihan tersebut justru menjadi pintu menuju keburukan yang lebih besar.

      Karena itu, ketika berhadapan dengan godaan, jalan terbaik bukanlah mencari dosa yang dianggap paling ringan, melainkan berusaha menjauh dari seluruh jalan yang dapat membawa kepada kemaksiatan.

      Pelajaran lainnya adalah agar kita tidak pernah merasa terlalu kuat untuk menghadapi godaan.

      Kesalehan, ilmu, dan kebiasaan beribadah tetap harus disertai kewaspadaan serta memohon pertolongan Allah. 

      Sebab, hati manusia dapat berubah dan godaan dapat datang melalui jalan yang tidak pernah kita duga.

      Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita untuk tidak meremehkan dosa sekecil apa pun dan tidak membuka pintu yang dapat membawa kepada kemaksiatan. 

      Menjaga diri sejak langkah pertama jauh lebih mudah daripada berusaha keluar setelah terjerumus semakin dalam. 

      Dengan memohon pertolongan Allah dan senantiasa menjaga batas-batas yang telah ditetapkan-Nya, semoga kita diberi keteguhan untuk tetap berada di jalan kebaikan. []

      Baca juga:

      Loading...
      Tambahkan komentar

      0 Komentar

      Tulis komentar
      Next Post
      Next Post

      Info

      Info
      • 59 Street, 06 Lane, Newyork
      • +0123456789
      • info@domainku.com