ARROSYID.OR.ID - Di tengah ambisi membangun kemegahan, seseorang terkadang lupa bahwa ada hak orang lain yang tidak boleh dikorbankan.
Sebuah bangunan dapat didirikan dengan batu, kayu, dan tenaga manusia, tetapi keberkahannya bergantung pada bagaimana bangunan itu diperoleh dan siapa yang harus menanggung akibatnya.
Kisah tentang seorang raja dan seorang nenek miskin berikut menjadi pengingat bahwa kekuasaan tidak seharusnya membuat seseorang bertindak semena-mena.
Kisah ini dinukil oleh Abdul Mun'im dari ayahnya, Wahab, dan disebutkan dalam 'Uyunul Hikayat karya Ibnu Jauzi.
Cerita tersebut menggambarkan bagaimana kesedihan seorang perempuan tua yang kehilangan tempat tinggalnya berubah menjadi doa yang sangat menggetarkan.
Raja Membangun Istana Megah
Dikisahkan, seorang raja tengah membangun sebuah istana yang sangat besar dan megah. Bangunan itu dipersiapkan sebagai tempat tinggal yang menunjukkan kebesaran dan kekuasaannya.
Tidak jauh dari lokasi pembangunan terdapat sebuah gubuk sederhana. Gubuk tersebut jauh dari kata mewah.
Di sanalah seorang nenek miskin menjalani kehidupannya. Selain menjadi tempat berlindung dari panas dan hujan, gubuk itu juga menjadi tempat bagi sang nenek untuk beribadah kepada Allah.
Bagi orang yang melihat dari luar, gubuk tersebut mungkin tidak lebih dari sebuah bangunan kecil yang tidak bernilai.
Namun bagi nenek itu, gubuk tersebut merupakan rumah, tempat beristirahat, sekaligus tempat mendekatkan diri kepada Allah.
Pada suatu hari, sang raja datang melakukan pemeriksaan langsung terhadap pembangunan istananya. Ia berkeliling bersama sejumlah pejabat, pengawal, dan orang-orang yang bertanggung jawab atas proyek tersebut.
Ketika memandang ke sekitar kawasan pembangunan, perhatian raja tertuju kepada sebuah gubuk tua.
“Apa bangunan itu?” tanya sang raja.
Salah seorang yang berada di dekatnya menjawab bahwa bangunan tersebut merupakan tempat tinggal seorang perempuan tua.
Mendengar penjelasan itu, sang raja justru merasa terganggu. Gubuk sederhana tersebut dianggap tidak sesuai dengan kawasan istana yang sedang dibangunnya.
Alih-alih mencari jalan keluar yang adil, raja mengambil keputusan secara sepihak. Ia memerintahkan para prajurit untuk merobohkan gubuk milik nenek tersebut.
Gubuk Nenek Dirobohkan Saat Ia Pergi
Pada saat perintah itu diberikan, sang nenek sedang tidak berada di rumah. Ia keluar untuk mencari makanan demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
Keadaan tersebut membuat para prajurit dapat menjalankan perintah dengan mudah. Tidak ada pemilik rumah yang dapat ditemui.
Tidak ada kesempatan bagi sang nenek untuk menyampaikan keberatan atau memohon agar tempat tinggalnya dipertahankan.
Dalam waktu yang tidak lama, gubuk sederhana itu pun dihancurkan.
Bagi para prajurit, mungkin yang mereka lakukan hanyalah menjalankan perintah penguasa. Namun bagi seorang nenek miskin, kehancuran gubuk itu berarti hilangnya tempat untuk berlindung dan tempat yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya.
Ketika sang nenek pulang, ia mendapati rumahnya telah rata dengan tanah.
Ia terdiam. Kesedihan memenuhi hatinya.
“Siapa yang telah merobohkan rumahku?” tanyanya.
Setelah mengetahui bahwa gubuknya dihancurkan oleh prajurit atas perintah sang raja, nenek tersebut tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Ia tidak mempunyai pasukan, harta, ataupun kedudukan untuk menuntut penguasa.
Namun ia masih memiliki satu tempat untuk mengadu.
Allah.
Doa Orang yang Terzalimi
Sang nenek kemudian menengadahkan kedua tangannya ke langit. Air matanya mengalir. Dalam kondisi tidak berdaya, ia mengadukan penderitaannya kepada Allah.
Ia berkata:
يَا رَبِّ، كُنْتُ غَائِبَةً، وَأَنْتَ حَاضِرٌ، تَعْلَمُ مَا حَدَثَ
“Ya Rabb, ketika kejadian itu berlangsung aku sedang tidak ada, sedangkan Engkau selalu ada dan mengetahui apa yang telah terjadi.”
Kalimat tersebut menggambarkan keyakinan seorang hamba bahwa tidak ada satu pun kezaliman yang luput dari pengetahuan Allah.
Sang nenek tidak mampu menghadapi kekuatan raja. Akan tetapi, ia percaya bahwa Allah mengetahui seluruh kejadian yang menimpanya.
Ia tidak perlu mendatangkan saksi untuk menjelaskan penderitaannya kepada Allah. Allah mengetahui siapa yang berbuat zalim, siapa yang menjadi korban, dan apa yang terjadi ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Dari sinilah kisah tersebut mencapai titik pentingnya.
Istana Raja Mulai Runtuh
Setelah peristiwa itu, pembangunan istana sang raja yang sebelumnya berjalan mulai mengalami masalah. Pembangunan yang semula diharapkan menghasilkan bangunan megah perlahan terhenti.
Sedikit demi sedikit proyek tersebut mengalami kemunduran hingga akhirnya istana yang dibangun dengan penuh ambisi itu runtuh.
Kemegahan yang sebelumnya hendak ditampilkan kepada manusia ternyata tidak mampu bertahan.
Kisah ini memberikan gambaran yang kuat tentang akibat dari sebuah keputusan yang tidak mempertimbangkan keadilan.
Sang raja memiliki kekuasaan untuk menghancurkan sebuah gubuk, tetapi kekuasaan tersebut tidak membuatnya mampu menghindari ketetapan Allah.
Waspada terhadap Doa Orang yang Dizalimi
Kisah tersebut selaras dengan peringatan Rasulullah ﷺ agar seseorang tidak meremehkan doa orang yang mengalami kezaliman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ
Artinya: “Takutlah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR Bukhari)
Hadis ini mengajarkan bahwa kekuatan seseorang tidak hanya diukur dari harta, jabatan, pengikut, atau kekuasaan yang dimilikinya.
Orang yang terlihat lemah di hadapan manusia bisa saja memiliki kedudukan yang berbeda di hadapan Allah.
Karena itu, seseorang yang mempunyai kekuasaan harus semakin berhati-hati dalam menggunakan kewenangannya.
Keputusan yang tampak kecil bagi seorang penguasa dapat menjadi perkara besar bagi orang yang menjadi korban.
Pelajaran dari Kisah Raja dan Nenek Miskin
Ada beberapa pelajaran penting yang dapat direnungkan dari kisah ini.
Pertama, kekuasaan harus disertai keadilan. Seorang pemimpin tidak boleh mengambil keputusan hanya berdasarkan kepentingan pribadi.
Setiap kebijakan yang menyangkut kehidupan orang lain harus mempertimbangkan hak dan keadaan mereka.
Kedua, jangan meremehkan penderitaan orang miskin. Gubuk sang nenek mungkin terlihat tidak berarti dibandingkan istana yang sedang dibangun. Namun bagi pemiliknya, gubuk itu adalah rumah dan tempat yang sangat berharga.
Ketiga, jangan melakukan kezaliman ketika memiliki kekuasaan. Jabatan dan kekuatan adalah amanah. Keduanya bukan alasan untuk memperlakukan orang lain sesuka hati.
Keempat, Allah mengetahui setiap kezaliman. Ketika seseorang merasa tidak memiliki jalan untuk memperoleh keadilan, bukan berarti keadilan telah hilang.
Ada Allah yang mengetahui segala sesuatu, termasuk perkara yang tersembunyi dari pandangan manusia.
Kelima, seorang pemimpin harus mampu melihat persoalan dari sisi rakyatnya. Raja dalam kisah ini melihat gubuk sebagai sesuatu yang mengganggu keindahan kawasan istana.
Ia tidak melihatnya dari sudut pandang seorang nenek yang kehilangan satu-satunya tempat tinggal.
Perbedaan sudut pandang itulah yang seharusnya menjadi pelajaran bagi siapa pun yang memiliki kewenangan.
Jangan Sampai Kekuasaan Menjadi Sebab Kehancuran
Istana yang megah tidak selalu menjadi tanda keberhasilan jika pembangunannya mengorbankan hak orang lain.
Sebaliknya, sebuah keputusan yang tampak sederhana untuk menjaga hak seorang yang lemah dapat menjadi bukti bahwa seorang pemimpin masih memiliki hati nurani.
Kisah nenek miskin dan raja ini pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah gubuk yang dihancurkan atau sebuah istana yang runtuh.
Lebih dari itu, kisah tersebut berbicara tentang keadilan, doa orang terzalimi, amanah kekuasaan, dan akibat dari kesewenang-wenangan.
Seseorang mungkin dapat menghindari teguran manusia. Ia mungkin dapat menggunakan jabatan untuk membungkam orang yang lemah. Namun tidak ada kekuasaan manusia yang mampu menghalangi pengetahuan Allah.
Karena itu, siapa pun yang memiliki kewenangan hendaknya berhati-hati sebelum mengambil keputusan. Jangan sampai demi membangun sesuatu yang dianggap megah, ia justru menghancurkan kehidupan orang lain.
Sebab, doa orang yang terzalimi tidak membutuhkan istana, kekayaan, atau kekuasaan untuk sampai kepada Allah.
Wallahu a'lam.

0 Komentar