ARROSYID.OR.ID - KH Djamaluddin Ahmad merupakan salah satu ulama yang dikenal luas melalui kiprah keilmuan, pesantren, kajian tasawuf, serta dakwah kepada masyarakat.
Sosok yang akrab dipanggil Abah Djamal ini dikenal sebagai ulama yang menjalani kehidupan dengan sederhana, sabar, dan istiqamah dalam mengajarkan ilmu.
Namanya juga dikenal dalam lingkungan tarekat Syadziliyyah yang berpusat di Pondok PETA Tulungagung.
Perjalanan hidup KH Djamaluddin Ahmad tidak hanya berkaitan dengan aktivitasnya sebagai pengasuh pesantren.
Ia juga dikenal sebagai guru yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan, pembinaan santri, pengamalan ilmu, dan penulisan karya keislaman.
Bahkan, di tengah kesibukan pengajian yang padat, Abah Djamal masih menyempatkan diri menghasilkan berbagai tulisan dan buku.
Kehidupan beliau menjadi menarik untuk dipelajari karena menggambarkan sosok kiai yang menggabungkan ilmu, amal, dakwah, dan pengabdian kepada umat. Berikut biografi KH Djamaluddin Ahmad, mulai dari masa kecil, perjalanan pendidikan, keluarga, kiprah di pesantren, hingga karya-karya yang ditinggalkannya.
Biografi KH Djamaluddin Ahmad
KH Moch. Djamaluddin Ahmad, yang dikenal oleh para santrinya dengan panggilan Abah Djamal, lahir di Desa Gondanglegi-Prambon, Nganjuk, pada 31 Desember 1943.
Beliau merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Ayahnya bernama Achmad bin Hasan Mustajab, sedangkan ibunya bernama Hj. Mahmudah atau Djumini sebelum menunaikan ibadah haji, putri Abdurrahman bin Irsyad bin Rifa’i. Saudara-saudaranya adalah Imam Ghozali, Jawahir, KH Moch. Djamaluddin Ahmad, dan Zainal Abidin.
KH Djamaluddin Ahmad dikenal sebagai ulama yang masyhur dalam lingkungan tarekat Syadziliyyah. Biografi beliau disebut tidak mudah ditemukan karena semasa hidupnya ia dikenal mengamalkan sifat al-khumul, yaitu kecenderungan untuk tidak menonjolkan diri.
Kesederhanaan tersebut menjadi salah satu karakter yang melekat pada sosok Abah Djamal. Meskipun memiliki latar belakang nasab yang disebut tersambung dengan sejumlah tokoh besar di tanah Jawa, beliau tidak menjadikan hal tersebut sebagai sesuatu yang perlu dibanggakan.
Masa Kecil dan Keluarga
Masa kecil KH Djamaluddin Ahmad berlangsung dalam lingkungan keluarga yang religius. Pendidikan agama tidak hanya diperoleh melalui lembaga pendidikan, tetapi juga melalui pembiasaan yang dilakukan kedua orang tuanya.
Ayah beliau digambarkan sebagai sosok yang sabar, adil, dan istiqamah. Sang ayah juga lebih mengutamakan pembelajaran bagi anak-anaknya.
Sementara itu, ibunya merupakan figur religius yang istiqamah membaca Al-Qur'an dan berpuasa pada hari kelahiran putra-putrinya.
Kedua orang tua Abah Djamal juga disebut tidak membiasakan diri berbicara negatif kepada anak-anak mereka. Pola asuh tersebut kemudian turut membentuk karakter Abah Djamal yang dikenal sederhana, religius, dan sabar.
Sejak kecil, Abah Djamal telah mendapatkan pendidikan formal melalui Sekolah Rakyat. Selain itu, ia juga memperoleh pengajaran dari sang kakek. Pendidikan agama kemudian dilanjutkan melalui pesantren.
Perjalanan Pendidikan KH Djamaluddin Ahmad
Perjalanan pendidikan KH Djamaluddin Ahmad menunjukkan semangat belajar yang kuat. Setelah menempuh Sekolah Rakyat, beliau belajar di Pondok Pesantren Selorejo Pedukuhan Combre yang diasuh oleh Kyai Abu Amar.
Pada 1956, Abah Djamal melanjutkan pendidikan di Pesantren Tambakberas Jombang. Beliau diterima sebagai santri kelas II Madrasah Ibtidaiyah dan kemudian melanjutkan ke MMA Tambakberas.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Tambakberas, beliau masih merasa perlu memperdalam pengetahuan. Pada bulan Sya'ban dan Ramadan, beliau berangkat mengikuti khataman di Pondok Pesantren Lirboyo.
Perjalanan menuntut ilmu kemudian berlanjut pada 1967–1969 di Pondok Pesantren Al-Wahdah, Lasem, Rembang, yang diasuh KH Baidlowi Abdul Aziz.
Pada waktu tertentu, beliau juga belajar di Pondok Poncol Salatiga yang diasuh Kyai Asya'ri serta di Mraggen yang diasuh Kyai Muslih dan Kyai Murodi.
Rangkaian pendidikan tersebut memperlihatkan bahwa Abah Djamal merupakan sosok yang tidak berhenti belajar. Semangat tersebut kemudian menjadi salah satu ciri kehidupannya sebagai ulama.
Pernikahan dan Keluarga
Dalam kehidupan keluarga, KH Djamaluddin Ahmad menikah dengan Nyai Hj. Hurriyah Jamal, putri KH Abdul Fattah.
Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai lima orang putra dan putri, yaitu Nyai Hj. Ummu Salamah, KH M. Idris Djamaluddin, Nyai Hj. Latifah Hidayati, Nyai Hj. Bashirotul Hidayah, dan Nyai Hj. Zuhrotul Makkiyah.
Keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan dakwah Abah Djamal. Beliau juga dikenal memiliki perhatian terhadap pendidikan dan pembentukan generasi penerus.
KH Djamaluddin Ahmad sebagai Pengasuh Pesantren
KH Djamaluddin Ahmad merupakan pengasuh Pondok Pesantren Bumi Damai Al-Muhibbin. Pesantren tersebut kemudian diserahkan kepada putra keduanya, KH M. Idris Djamaluddin.
Nama Abah Djamal semakin dikenal masyarakat melalui berbagai majelis ilmu, salah satunya pengajian Al-Hikam.
Selain mengembangkan kegiatan pengajian, beliau juga mendirikan sekolah formal, institut agama Islam, serta yayasan anak yatim.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa kiprah beliau tidak terbatas pada pengajaran agama secara informal. Pendidikan formal dan kepedulian sosial juga menjadi bagian dari pengabdiannya kepada masyarakat.
Sosok Abah Djamal dalam Pandangan Para Tokoh
Berbagai kesaksian menggambarkan KH Djamaluddin Ahmad sebagai sosok yang memiliki perhatian kuat terhadap ilmu agama.
Abi Kholiq, salah satu putra menantunya, menyebut Abah Djamal sebagai sosok shufiyan wa faqihan, yakni orang yang ahli dalam ilmu tasawuf sekaligus ahli dalam ilmu fikih.
Kehati-hatian beliau dalam menjalani kehidupan juga digambarkan sangat kuat. Salah satu contoh yang disebut dalam sumber adalah sikap ihtiyath atau kehati-hatian terhadap sesuatu yang dianggap syubhat.
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf juga menyampaikan bahwa Abah Djamal merupakan kiai yang sepanjang hidupnya berdedikasi dalam menghadirkan nilai-nilai fundamental tradisi keulamaan NU. Dua nilai yang ditekankan adalah khidmah al-ilmi dan ri'ayah al-ummah.
Khidmah al-Ilmi dan Ri'ayah al-Ummah
Khidmah al-ilmi menggambarkan pengabdian Abah Djamal terhadap ilmu. Sejak masa belajar kepada guru dan kiai hingga mengasuh santri, beliau terus melayani dan mengembangkan ilmu. Ilmu tidak hanya dipelajari untuk diri sendiri, tetapi juga diajarkan kepada generasi berikutnya.
Sementara itu, ri'ayah al-ummah menggambarkan kepeduliannya terhadap umat. Abah Djamal disebut senantiasa mengasuh, melayani, membimbing, mendampingi, dan mengawal umat dengan penuh kesungguhan serta keikhlasan.
Habib Sholeh bin Muhammad Al-Jufri menggambarkan Abah Djamal sebagai sosok yang menjalankan tiga aspek kehidupan, yakni syariat, tarekat, dan hakikat. Dalam pandangan tersebut, kesempurnaan manusia juga dikaitkan dengan ilmu, iman, dan ihsan.
Abah Djamal juga dikenal tetap menyampaikan ilmu meskipun dalam kondisi sakit. Kesabaran dan ketelatenan disebut telah menjadi bagian dari keistiqamahannya.
Ia juga dikenal sebagai sosok yang tidak pernah berhenti belajar. Bahkan, disebutkan bahwa beliau selalu membawa pena dan kertas kecil ke mana pun berada.
Kebiasaan tersebut menggambarkan kedekatannya dengan aktivitas membaca, mencatat, dan mengembangkan ilmu.
Karya-Karya KH Djamaluddin Ahmad
Selain dikenal sebagai kiai dan pengasuh pesantren, KH Djamaluddin Ahmad juga merupakan penulis yang produktif. Di tengah jadwal pengajian yang padat, beliau masih meluangkan waktu untuk menulis.
Salah satu kesaksian menyebutkan bahwa beliau memiliki lebih dari 100 tulisan. Sumber lain menyebut karya beliau yang terdokumentasikan berjumlah lebih dari 40 buku.
Salah satu bukunya, Al-Asyar Al-Jawiyah, merupakan kumpulan syair yang disampaikan dalam pengajian rutin malam Senin Al-Hikam.
Karya-karya Abah Djamal banyak diterbitkan oleh para santrinya melalui Pustaka Al-Muhibbin. Dalam proses penyuntingan, beliau dikenal sangat teliti, termasuk dalam memperhatikan tanda baca, kaidah bahasa, dan istilah yang digunakan.
Karya terakhir yang disebut dalam bahan adalah Amal Hasanah dan Keutamaanya, yang terbit pada 2021. Bahkan ketika kondisi kesehatannya telah menurun, beliau tetap mendorong aktivitas penulisan sebagai amal jariyah.
Beberapa karya KH Djamaluddin Ahmad yang tercatat dalam katalog antara lain:
Kitab Al-Hikayat
Syirik & Riya'
Hikayat Sufi
Syaikh Abdul Qodir
Antologi Tasawuf
Adab dan Tata Krama
Jalan Menuju Allah
Pendidikan
Tasawuf Amaliyah
Ikhlas
Mutiara Indah
Tawasul
Syiir Jawi
Islam Iman Ihsan
Mencintai Allah
Keutamaan Sholat
Mengingat Kematian
Dakwah Islamiyah
Sanad al-Hadis Musalsal
Keutamaan Al-Qur'an
101 Cerita Penegak Iman Peluhur Budi
Menghidupkan Sunnah Rasul
Muhammad Rasul Paripurna
Berbakti Kepada Kedua Orang Tua
Amal Hasanah dan Keutamaanya
Kesibukan dengan Ilmu yang Bermanfaat dalam Agama
Napak Tilas Auliya
Khutbah Jum'ah Al Badi'ah
Napak Tilas Auliya: Riwayat Singkat Para Guru Pendiri Pesantren
Daftar tersebut merupakan rangkuman karya yang tercantum dalam bahan penelitian berdasarkan katalog Pustaka Al-Muhibbin.
Wafatnya KH Djamaluddin Ahmad
KH Djamaluddin Ahmad wafat pada Kamis, 24 Februari 2022. Kepergian beliau meninggalkan duka bagi para santri, jamaah, ulama, maupun berbagai kalangan yang mengenalnya.
Besarnya penghormatan terhadap Abah Djamal setelah wafat juga tercermin dari adanya buku Isyhad Abah KH. Moch. Djamaludin Ahmad yang menghimpun kesaksian mengenai sosok dan kiprahnya.
Wafatnya seorang ulama tidak serta-merta mengakhiri pengaruh keilmuannya. Pesantren, santri, keluarga, majelis ilmu, dan karya-karya tulis yang ditinggalkan menjadi bagian dari warisan yang terus dapat dipelajari.
Teladan yang Ditinggalkan Abah Djamal
Membicarakan biografi KH Djamaluddin Ahmad bukan hanya membahas tanggal lahir, perjalanan pendidikan, keluarga, dan daftar karya.
Lebih jauh, perjalanan hidup Abah Djamal menunjukkan keteladanan tentang bagaimana ilmu ditempatkan sebagai bagian dari pengabdian.
Dari masa muda, beliau terus berpindah tempat untuk menuntut ilmu. Setelah menjadi guru dan pengasuh pesantren, semangat belajar tersebut tidak berhenti.
Bahkan ketika telah dikenal luas, beliau tetap membawa pena dan kertas serta terus menghasilkan tulisan.
Ketekunan dalam belajar, mengamalkan ilmu, mengajarkan ilmu, membimbing santri, serta melayani umat menjadi benang merah kehidupan Abah Djamal.
Nilai tersebut sejalan dengan gambaran khidmah al-ilmi dan ri'ayah al-ummah yang disampaikan dalam kesaksian mengenai beliau.
Karya-karya yang mencapai puluhan judul juga menjadi bentuk lain dari pengabdian tersebut. Buku-buku tentang tasawuf, akhlak, ibadah, dakwah, Al-Qur'an, hadis, sejarah para ulama, hingga berbagai tema keislaman menjadi bagian dari warisan intelektual yang dapat dipelajari generasi berikutnya.
Kesimpulan
KH Djamaluddin Ahmad atau Abah Djamal merupakan ulama yang dikenal melalui pengabdian terhadap ilmu, pesantren, tasawuf, dan masyarakat.
Lahir di Nganjuk pada 31 Desember 1943, beliau menjalani perjalanan pendidikan di sejumlah pesantren, termasuk Tambakberas, Lirboyo, Lasem, Salatiga, dan Mraggen.
Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Bumi Damai Al-Muhibbin, Abah Djamal aktif mengembangkan majelis ilmu, pendidikan formal, serta kegiatan sosial. Kajian Al-Hikam menjadi salah satu majelis yang membuat namanya dikenal lebih luas.
Selain menjadi guru dan pengasuh pesantren, beliau juga merupakan penulis produktif. Berbagai karya yang ditinggalkan membahas tasawuf, akhlak, ibadah, dakwah, sejarah, dan berbagai tema keislaman.
Abah Djamal wafat pada 24 Februari 2022. Namun, perjalanan keilmuan, keteladanan, pesantren, santri, serta karya-karyanya menjadi bagian dari warisan yang tetap dapat dipelajari.
Dari sosok KH Djamaluddin Ahmad, dapat dilihat bahwa pengabdian kepada ilmu tidak berhenti pada proses belajar, tetapi berlanjut melalui pengamalan, pengajaran, penulisan, dan pelayanan kepada umat. []

0 Komentar