ARROSYID.OR.ID - Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen kota Semarang merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang memiliki sejarah panjang di Kota Semarang.
Pesantren ini berada di kawasan Bugen, Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan, dan berkembang dari tradisi dakwah keluarga ulama yang telah berlangsung sejak akhir abad ke-19.
Dalam perkembangannya, Al-Itqon tidak hanya mempertahankan tradisi pesantren salafiyah melalui pengajian kitab kuning, tetapi juga mengembangkan pendidikan diniyah, pendidikan formal, dan Ma'had Aly.
Pesantren juga menjadi ruang pembinaan akhlak, ibadah, kedisiplinan, serta kepedulian sosial bagi para santri.
Keberadaan Pondok Pesantren Al-Itqon semakin dikenal masyarakat luas melalui berbagai kegiatan dakwah, terutama Pengajian Ahad Pagi yang terbuka untuk masyarakat umum.
Pengajian tersebut menjadi salah satu kegiatan keagamaan yang mempertemukan santri dengan masyarakat dari berbagai daerah.
Sejarah Berdirinya Ponpes Al-Itqon Bugen Semarang
Sejarah Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di Bugen.
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, wilayah Bugen dikenal sebagai bagian dari kepatihan Singosari. Pada masa itu, kondisi sosial masyarakat dan kesadaran beragama masih menjadi perhatian para tokoh agama setempat.
Pada tahun 1888 M, Syeikh Abu Yazid dari Banjarmasin datang ke Bugen setelah menikah dengan Nyai Rohmah, putri Kyai Abdur Rosul.
Atas permintaan Kasma Wijaya, seorang tokoh masyarakat setempat, Abu Yazid kemudian berdakwah di Bugen. Ia juga mendirikan sebuah masjid yang menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan masyarakat.
Setelah Syeikh Abu Yazid wafat, perjuangan dakwah diteruskan oleh putranya, Kyai Abu Dardak atau H. Syakur. Setelah Kyai Abu Dardak wafat pada 1911, putrinya, Nyai Khoiriyyah, menikah dengan Kyai Abdur Rosyid. Dari keluarga inilah kemudian berkembang lembaga pesantren di Bugen.
Pada tahap awal, pesantren lebih banyak mengajarkan kitab kuning dan tasawuf. Setelah Kyai Abdur Rosyid wafat, pesantren diteruskan oleh menantunya, KH Shodaqoh Hasan, yang menikah dengan Nyai Hikmah.
Dalam perjalanan sejarahnya, pesantren tersebut kemudian dikenal dengan nama Al-Irsyad sebelum berkembang menjadi Pondok Pesantren Al-Itqon.
Dokumen profil pesantren yang dikutip dalam penelitian akademik mencatat bahwa Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen berdiri pada 1374 H/1953 M. Tahun tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah kelembagaan Al-Itqon.
Perkembangan berikutnya semakin kuat ketika keluarga besar pesantren mengembangkan lembaga pendidikan dan yayasan. Yayasan Al-Itqon dibentuk pada 7 Juni 1984.
Sejumlah tokoh keluarga pesantren kemudian mengambil peran dalam mengembangkan pendidikan dan dakwah, termasuk KH Ahmad Haris Shodaqoh dan KH Ubaidullah Shodaqoh.
Sejarah panjang tersebut membuat Al-Itqon memiliki karakter sebagai pesantren yang tidak hanya berdiri sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai bagian dari kesinambungan tradisi dakwah dan keilmuan Islam di Bugen.
Visi, Misi, dan Fondasi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja)
Pendidikan Pondok Pesantren Al-Itqon diarahkan pada pembentukan santri yang memiliki keseimbangan antara ilmu, iman, ibadah, dan akhlak.
Pendidikan agama tidak hanya diberikan dalam bentuk teori, tetapi diterapkan melalui kehidupan sehari-hari di lingkungan pesantren.
Visi pendidikan Al-Itqon menekankan terbentuknya individu yang berakhlak mulia dan berprestasi berdasarkan iman dan takwa (Imtaq).
Adapun misi pesantren mencakup pembentukan santri yang memiliki akhlak mulia, berkarakter Ahlussunnah wal Jamaah, serta mampu berpikir, bersikap, dan bertindak berdasarkan prinsip kebaikan umat.
Penerapan visi tersebut terlihat dalam pembiasaan ibadah dan kegiatan harian santri. Santri dibiasakan menjalankan salat fardu secara tertib, salat sunah, membaca Al-Qur'an, menghafal doa-doa harian, serta mengikuti pengajian dan pembelajaran keagamaan.
Pembentukan karakter juga menjadi bagian penting dalam pendidikan. Santri didorong untuk memiliki kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, sportivitas, kepercayaan diri, serta rasa hormat kepada orang tua dan guru.
Fondasi Ahlussunnah wal Jamaah menjadi salah satu karakter utama pesantren. Nilai Aswaja tidak hanya dipahami sebagai materi pelajaran, tetapi menjadi bagian dari tradisi kehidupan pesantren melalui penghormatan terhadap ulama, tradisi keilmuan, kebersamaan, musyawarah, dan kepedulian kepada masyarakat.
Profil Pengasuh dan Tokoh Kunci Ponpes Al-Itqon
Kesinambungan kepemimpinan keluarga menjadi salah satu karakter Pondok Pesantren Al-Itqon. Dalam perkembangan pesantren, terdapat beberapa tokoh yang berperan dalam kepengasuhan, pendidikan, dan pengembangan lembaga.
KH Ahmad Haris Shodaqoh
KH Ahmad Haris Shodaqoh merupakan salah satu tokoh utama Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen. Ia merupakan putra KH Shodaqoh Hasan dan Nyai Hikmah, sekaligus bagian dari generasi penerus keluarga pesantren Bugen.
KH Haris dikenal luas sebagai pengasuh pesantren dan tokoh yang aktif dalam dakwah masyarakat. Namanya sangat berkaitan dengan Pengajian Ahad Pagi Al-Itqon yang berkembang menjadi salah satu majelis keagamaan besar di Semarang.
Salah satu kajian yang menjadi ciri khas pengajian tersebut adalah Tafsir Al-Ibriz karya KH Bisri Mustofa. Kajian tafsir tersebut tidak hanya diikuti santri, tetapi juga masyarakat umum dari berbagai daerah.
Di lingkungan pesantren, KH Haris juga berperan dalam menjaga tradisi kitab kuning sekaligus mendorong pengembangan pendidikan yang lebih luas.
KH Ubaidullah Shodaqoh
KH Ubaidullah Shodaqoh merupakan salah satu pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon dan bagian dari keluarga penerus pesantren Bugen. Dalam struktur yayasan yang terdokumentasi, KH Ubaidullah tercatat sebagai Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen.
Selain menjalankan peran di lingkungan pesantren, KH Ubaidullah juga aktif dalam kehidupan sosial-keagamaan masyarakat dan organisasi Nahdlatul Ulama. Saat ini ia diamanahi sebagai Rais SYuriah PWNU Jawa Tengah.
Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa pesantren memiliki hubungan yang kuat dengan kehidupan umat dan masyarakat.
Dalam berbagai kegiatan, KH Ubaidullah menekankan pentingnya adab, khidmah, kemandirian, dan tanggung jawab dalam kehidupan keagamaan.
Nilai-nilai tersebut sejalan dengan karakter pendidikan pesantren yang menempatkan akhlak sebagai bagian penting dari proses pembentukan santri.
KH Sholahuddin Shodaqoh
KH Sholahuddin Shodaqoh juga merupakan bagian dari keluarga penerus pesantren Bugen dan salah satu pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon.
Keterlibatannya dalam kehidupan pesantren memperlihatkan pola regenerasi yang berlangsung dalam keluarga besar Al-Itqon.
Selain pengelolaan pesantren, Sholahuddin juga tercatat memiliki keterlibatan dalam kegiatan keilmuan dan penerbitan yang berkembang di lingkungan Ma'had Aly Al-Itqon.
Kehadiran KH Ahmad Haris Shodaqoh, KH Ubaidullah Shodaqoh, dan KH Sholahuddin Shodaqoh menunjukkan kesinambungan kepemimpinan keluarga dalam menjaga pendidikan, dakwah, dan tradisi keilmuan pesantren.
Sistem Pendidikan: Integrasi Salafiyah dan Formal
Sistem pendidikan Pondok Pesantren Al-Itqon memadukan tradisi salafiyah dengan pendidikan formal. Model tersebut memungkinkan santri mendapatkan pendidikan agama secara mendalam sekaligus memiliki akses terhadap pendidikan formal.
Pendidikan di pesantren mencakup berbagai bidang ilmu keislaman, seperti fikih, tafsir, hadis, akhlak, tasawuf, nahwu, sharaf, dan ilmu alat.
Pembelajaran tersebut dilaksanakan melalui kegiatan pengajian, kelas diniyah, serta kegiatan pendidikan lainnya.
Metode Sorogan, Bandongan, dan Kitab Kuning
Tradisi sorogan merupakan metode pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada santri untuk membaca dan mempelajari kitab secara langsung di hadapan guru. Guru kemudian memberikan koreksi dan penjelasan sesuai kemampuan santri.
Sementara itu, bandongan dilakukan secara bersama-sama. Kiai atau ustaz membaca kitab dan memberikan penjelasan, sedangkan santri menyimak, memberi makna, mencatat, dan mendalami materi.
Kedua metode tersebut merupakan ciri khas pendidikan pesantren yang mempertahankan hubungan langsung antara guru dan santri. Tradisi tersebut juga membantu membentuk kedekatan intelektual dan spiritual antara santri dengan gurunya.
Kajian kitab kuning menjadi bagian penting dari pendidikan Al-Itqon. Materinya mencakup fikih, tafsir, hadis, tasawuf, akhlak, serta berbagai ilmu yang menjadi dasar dalam memahami literatur keislaman klasik.
Pendidikan Formal dan Ma'had Aly
Al-Itqon juga mengembangkan pendidikan diniyah secara berjenjang. Madrasah Diniyyah Salafiyyah yang terdapat di lingkungan pesantren memiliki jenjang Awaliyah, Wustha, dan Ulya.
Selain pendidikan diniyah, Al-Itqon memiliki Ma'had Aly Al-Itqon sebagai lembaga pendidikan keislaman tingkat lanjut. Keberadaan Ma'had Aly menunjukkan bahwa tradisi keilmuan pesantren terus dikembangkan hingga jenjang pendidikan tinggi.
Pola pendidikan tersebut memberikan ruang kepada santri untuk memperdalam ilmu agama sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan masyarakat yang terus berubah.
Fasilitas Terpadu Lingkungan Pesantren
Kegiatan pendidikan dan kehidupan santri didukung oleh berbagai fasilitas pesantren. Berdasarkan data profil yang tersedia, kompleks Pondok Pesantren Al-Itqon memiliki luas bangunan sekitar 4.000 meter persegi.
Fasilitas tersebut mencakup kamar asrama, ruang belajar, masjid, ruang pimpinan, ruang ustaz, ruang administrasi, perpustakaan, toilet santri, lapangan olahraga, kantin, tempat parkir, dan gedung serbaguna.
Data profil pesantren juga mencatat 22 kamar asrama putra, dua ruang perpustakaan, satu masjid, ruang belajar, ruang administrasi, serta fasilitas pendukung lainnya.
Bangunan yang tersedia meliputi gedung pondok, gedung serbaguna, kantor, ruang asatidz, perpustakaan, masjid, tempat parkir, lapangan olahraga, dan kantin. Fasilitas tersebut mendukung kehidupan santri yang berlangsung sepanjang hari.
Lingkungan pesantren menjadi ruang bagi santri untuk belajar, beribadah, bermusyawarah, berorganisasi, berolahraga, dan membangun hubungan sosial dengan sesama santri.
Agenda Sosial dan Pengajian Ahad Pagi Terbuka
Pengajian Ahad Pagi merupakan salah satu kegiatan yang paling dikenal dari Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen. Kegiatan tersebut berkembang dari tradisi pengajian internal pesantren menjadi majelis ilmu yang terbuka bagi masyarakat.
Pengajian tersebut dikenal melalui kajian Tafsir Al-Ibriz bersama KH Ahmad Haris Shodaqoh. Jamaah yang hadir tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar pesantren, tetapi juga datang dari berbagai daerah.
Besarnya antusiasme masyarakat terlihat dalam kegiatan khataman Tafsir Al-Ibriz yang pernah dihadiri sekitar 15.000 jamaah.
Pengajian tersebut sekaligus menunjukkan posisi Al-Itqon sebagai salah satu pusat dakwah Islam yang memiliki pengaruh luas di masyarakat Semarang dan sekitarnya.
Selain pengajian, santri juga mengikuti berbagai kegiatan sosial dan ekstrakurikuler. Kegiatan tersebut antara lain bakti sosial, kunjungan ke panti asuhan, gotong royong, istighasah, manaqib, khitobah, hadrah, MTQ, bahsul masail, tadarus Al-Qur'an, musyawarah, olahraga, kegiatan bahasa, dan pengembangan karya ilmiah.
Kegiatan sosial menjadi bagian dari pendidikan karakter santri. Melalui aktivitas tersebut, santri belajar menerapkan nilai kepedulian, kebersamaan, tanggung jawab, dan pengabdian kepada masyarakat.
Informasi Lokasi dan Kontak Pendaftaran Santri
Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen Semarang berada di Jalan KH Abdurrosyid, Bugen, Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Secara geografis, pesantren berada sekitar 3 kilometer dari pusat Kecamatan Pedurungan dan sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Semarang.
Lokasi Bugen yang berada di kawasan timur Kota Semarang membuat pesantren relatif mudah dijangkau dari sejumlah wilayah di Kota Semarang dan daerah sekitarnya.
Data profil yang tersedia mencatat jumlah santri pada 2024 sekitar 715 orang, terdiri atas 400 santri laki-laki dan 315 santri perempuan. Pesantren juga didukung oleh tenaga ustaz dan ustazah serta guru pada lembaga pendidikan formal.
Bagi calon santri dan wali santri, informasi mengenai jadwal pendaftaran, persyaratan masuk, biaya pendidikan, jenjang pendidikan, program asrama, dan ketentuan penerimaan santri sebaiknya dikonfirmasi langsung kepada pengelola Pondok Pesantren Al-Itqon.
Ketentuan tersebut dapat mengalami perubahan mengikuti kebijakan pesantren dan tahun ajaran yang berjalan. []

0 Komentar