ARROSYID.OR.ID - Dalam kehidupan seorang Muslim, ada amalan yang terlihat sederhana tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Salah satunya adalah bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Shalawat bukan hanya ungkapan cinta seorang umat kepada Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan, kerinduan, dan upaya untuk selalu mengingat sosok yang menjadi teladan bagi seluruh umat Islam.
Salah satu kisah yang menggambarkan keutamaan mencintai Rasulullah SAW melalui shalawat terdapat dalam kitab Nashâihul ‘Ibâd, karya Syekh Nawawi Al-Bantani pbab pertama tentang Nasihat yang Mengandung Dua Himbauan/Perkara, pada maqolah ke 28 tentang Berdoa dan Memohon Ampun.
Kisah tersebut berkaitan dengan seorang tokoh sufi bernama Abu Bakr As-Syibli.
Dalam kisah yang dinukil Syekh Nawawi, sebuah amalan yang selalu dijaga As-Syibli setelah shalat fardhu menjadi sebab disebutkannya kecintaan Rasulullah SAW kepadanya dalam sebuah mimpi yang dialami Imam Ibnu Mujahid.
Kisah ini bukan sekadar cerita tentang seorang wali yang memperoleh kemuliaan. Lebih dari itu, terdapat pelajaran tentang istiqamah, kecintaan kepada Rasulullah SAW, memperbanyak shalawat, serta pentingnya menjaga amalan sederhana secara terus-menerus.
Mengenal Abu Bakr As-Syibli
Syekh Abu Bakr As-Syibli merupakan salah seorang tokoh sufi yang dikenal dalam literatur tasawuf. Nama beliau disebut sebagai Dulaf bin Jahdar, dan beliau hidup di Baghdad.
Dalam Nashâihul ‘Ibâd, Syekh Nawawi Al-Bantani menyebut As-Syibli sebagai salah seorang tokoh besar dalam kalangan ahli ma'rifat. Beliau wafat di Baghdad pada tahun 334 H setelah menjalani kehidupan selama 87 tahun.
Nama As-Syibli dikenal bukan semata karena banyaknya amalan yang dilakukan, tetapi juga karena kecintaan dan kesungguhannya dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Di antara amalan yang dinukil dalam kisah ini adalah kebiasaannya membaca dua ayat terakhir Surah At-Taubah setelah shalat fardhu, kemudian dilanjutkan dengan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Amalan tersebut tampak sederhana. Namun, justru dari amalan sederhana yang dilakukan dengan istiqamah inilah tersimpan pelajaran besar: kemuliaan tidak selalu lahir dari amalan yang terlihat besar, tetapi dapat tumbuh dari amalan kecil yang dijaga dengan penuh keikhlasan.
Kisah As-Syibli dan Imam Ibnu Mujahid
Suatu hari, As-Syibli datang menemui Imam Ibnu Mujahid.
Kedatangan As-Syibli disambut dengan penuh penghormatan. Imam Ibnu Mujahid kemudian merangkulnya dan mencium bagian kening di antara kedua matanya.
Perlakuan tersebut membuat orang-orang yang berada di sekitarnya merasa heran. Mengapa seorang ulama memberikan penghormatan yang begitu istimewa kepada As-Syibli?
Seseorang kemudian bertanya kepada Ibnu Mujahid tentang alasan di balik perlakuannya tersebut.
Ibnu Mujahid menjelaskan bahwa sebelumnya ia mendapatkan sebuah pengalaman dalam mimpi. Ia bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW.
Dalam mimpi tersebut, As-Syibli datang menemui Rasulullah SAW. Ketika melihat kedatangannya, Rasulullah SAW berdiri menyambut As-Syibli, kemudian merangkul dan mencium bagian kening di antara kedua matanya.
Pemandangan itu membuat Ibnu Mujahid penasaran. Ia kemudian bertanya kepada Rasulullah SAW dalam mimpinya:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَتَفْعَلُ هَذَا بِالشِّبْلِيِّ؟
“Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini kepada As-Syibli?”
Kemudian, sebagaimana dinukil dalam kisah tersebut, Rasulullah SAW menjawab bahwa As-Syibli memiliki kebiasaan yang selalu ia lakukan setelah mengerjakan shalat fardhu.
Ia membaca dua ayat terakhir Surah At-Taubah, kemudian mengucapkan:
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ
“Semoga Allah melimpahkan shalawat kepadamu, wahai Muhammad.”
Kisah tersebut kemudian membuat Ibnu Mujahid ingin memastikan apakah benar As-Syibli melakukan amalan tersebut.
Setelah bertemu dengan As-Syibli, Ibnu Mujahid menanyakan apa yang biasa ia baca setelah shalat fardhu.
Jawabannya ternyata sesuai dengan apa yang ia lihat dalam mimpinya.
As-Syibli memang selalu membaca dua ayat terakhir Surah At-Taubah dan kemudian bershalawat kepada Rasulullah SAW.
Kisah tersebut juga dinukil oleh sumber-sumber yang mengutip Nashâihul ‘Ibâd karya Syekh Nawawi Al-Bantani.
Dua Ayat Terakhir Surah At-Taubah yang Dibaca As-Syibli
Ayat pertama yang dibaca As-Syibli adalah Surah At-Taubah ayat 128:
QS. At-Taubah Ayat 128
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Latin:
Laqad jāakum rasūlum min anfusikum azīzun alaihi mā anittum ḥarīṣun alaikum bil-muminīna ra`ūfur raḥīm.
Artinya:
“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”
Ayat ini menggambarkan betapa besar perhatian dan kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya. Beliau sangat menginginkan agar umatnya memperoleh keimanan, keselamatan, dan kebaikan.
Kemudian dilanjutkan dengan ayat ke-129:
QS. At-Taubah Ayat 129
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
Latin:
Fa in tawallau fa qul ḥasbiyallāhu lā ilāha illā huwa, alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul-arsyil-`aẓīm.
Artinya:
“Maka jika mereka berpaling, katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku; tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.’”
Setelah membaca dua ayat tersebut, As-Syibli melanjutkannya dengan shalawat:
Shalawat As-Syibli
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ
Latin:
Shallallāhu `alaika yā Muḥammad.
Artinya:
“Semoga Allah melimpahkan shalawat kepadamu, wahai Muhammad.”
Kalimat tersebut singkat. Namun bagi seorang yang mencintai Rasulullah SAW, menyebut nama beliau dengan penuh penghormatan merupakan bentuk kecintaan yang sangat berarti.
Pelajaran Besar dari Amalan As-Syibli
Kisah As-Syibli memberikan pelajaran bahwa istiqamah sering kali lebih sulit daripada memulai sebuah amalan.
Banyak orang mampu melakukan suatu kebaikan sekali atau dua kali. Akan tetapi, mempertahankannya setiap hari membutuhkan kesungguhan hati.
As-Syibli tidak dikenal dalam kisah ini karena melakukan sesuatu yang rumit setelah shalat. Ia justru menjaga amalan yang sederhana: membaca dua ayat terakhir Surah At-Taubah dan bershalawat kepada Rasulullah SAW.
Dari sini kita dapat belajar bahwa jangan meremehkan amalan kecil.
Satu shalawat yang dibaca dengan penuh cinta mungkin terlihat sederhana di hadapan manusia. Tetapi nilai sebuah amal tidak hanya diukur dari banyaknya gerakan atau panjangnya bacaan.
Keikhlasan, kecintaan, dan istiqamah juga merupakan bagian penting dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah SWT.
Jangan Meremehkan Shalawat
Shalawat merupakan salah satu bentuk kecintaan seorang Muslim kepada Rasulullah SAW.
Ketika seseorang sering bershalawat, ia sedang membiasakan lisannya untuk menyebut nama manusia yang paling dicintai oleh umat Islam. Ia juga sedang mengingat perjuangan Rasulullah SAW dalam menyampaikan risalah Islam.
Karena itu, memperbanyak shalawat dapat menjadi salah satu cara menjaga hubungan hati dengan Rasulullah SAW.
Kisah As-Syibli mengajarkan bahwa kecintaan tidak cukup hanya diucapkan. Kecintaan perlu diwujudkan dalam kebiasaan.
Jika benar mencintai Rasulullah SAW, maka hendaknya kita berusaha mengikuti sunnahnya, memperbanyak shalawat, menjaga akhlak, mencintai ajaran yang beliau bawa, dan berusaha menjadi umat yang baik.
Istiqamah dalam Amalan Kecil
Ada kalanya seseorang ingin mengubah hidupnya dengan melakukan banyak amalan sekaligus. Ia ingin membaca Al-Qur'an dalam jumlah banyak, memperbanyak dzikir, memperbanyak shalawat, bersedekah, dan melakukan berbagai ibadah lainnya.
Semua itu tentu merupakan kebaikan.
Namun, jangan sampai semangat yang terlalu besar di awal membuat seseorang justru berhenti di tengah perjalanan.
Lebih baik memiliki amalan yang sederhana tetapi mampu dijaga setiap hari.
Misalnya, setelah shalat fardhu kita membiasakan membaca dua ayat terakhir Surah At-Taubah sebagaimana amalan yang dinukil dari As-Syibli dalam kisah ini, kemudian bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Ketika dilakukan secara konsisten, kebiasaan kecil tersebut dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Hari ini satu kali. Besok satu kali. Lusa satu kali. Hingga akhirnya menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan.
Inilah salah satu rahasia istiqamah.
Jangan Menunggu Menjadi Sempurna untuk Mencintai Rasulullah
Tidak semua orang mampu menjadi ulama. Tidak semua orang mampu menjadi ahli ibadah dengan amalan yang banyak. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk melakukan berbagai bentuk kebaikan dalam jumlah besar.
Tetapi setiap Muslim dapat mencintai Rasulullah SAW.
Kita dapat memulainya dengan sesuatu yang mudah.
Perbanyak shalawat.
Biasakan menyebut nama Rasulullah SAW dengan penuh penghormatan.
Pelajari sirah beliau.
Kenali akhlaknya.
Ikuti sunnahnya.
Dan berusaha menerapkan ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Jangan berkata, “Saya belum baik, maka saya belum pantas bershalawat.”
Justru shalawat dapat menjadi bagian dari perjalanan untuk memperbaiki diri.
Hati yang sering mengingat Rasulullah SAW semoga semakin terdorong untuk meneladani akhlak beliau.
Ketika Kebaikan yang Tersembunyi Menjadi Kemuliaan
Ada sebuah pesan mendalam dari kisah As-Syibli: kita tidak pernah tahu amalan mana yang akan menjadi sebab datangnya rahmat Allah kepada kita.
Mungkin ada amal yang kita anggap kecil tetapi ternyata sangat berarti.
Mungkin sebuah shalawat yang kita baca ketika sedang berjalan menjadi amal yang tidak kita sadari nilainya.
Mungkin sebuah sedekah yang kita berikan secara diam-diam menjadi sebab pertolongan Allah.
Mungkin sebuah doa yang kita panjatkan dengan air mata menjadi jalan datangnya ketenangan.
Karena itu, jangan meremehkan kebaikan sekecil apa pun.
Teruslah berbuat baik meskipun tidak ada manusia yang melihat.
Teruslah bershalawat meskipun tidak ada orang yang memuji.
Teruslah berdzikir meskipun tidak ada yang mengetahui.
Sebab yang paling penting bukan penilaian manusia, tetapi bagaimana amal tersebut diterima oleh Allah SWT.
Hikmah dari Kisah As-Syibli
Ada beberapa hikmah penting yang dapat kita ambil dari kisah ini.
Pertama, cintailah Rasulullah SAW dengan sungguh-sungguh. Cinta kepada Rasulullah SAW bukan hanya berada di dalam hati, tetapi diwujudkan dengan mengikuti ajarannya dan memperbanyak shalawat.
Kedua, jangan meremehkan amalan sederhana. Amalan yang terlihat kecil jika dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah dapat menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.
Ketiga, jagalah amalan setelah shalat. Setelah menyelesaikan shalat fardhu, jangan terburu-buru meninggalkan tempat ibadah tanpa berdzikir. Manfaatkan waktu tersebut untuk mengingat Allah SWT dan bershalawat kepada Rasulullah SAW.
Keempat, istiqamah membutuhkan latihan. Jangan menunggu memiliki waktu luang untuk beribadah. Jadikan ibadah sebagai bagian dari rutinitas harian.
Kelima, jangan mencari pujian manusia. Kisah As-Syibli mengingatkan bahwa seseorang bisa mendapatkan kemuliaan melalui amal yang tidak diketahui banyak orang.
Keenam, selalu berharap kepada rahmat Allah SWT. Kita tidak mengetahui amal mana yang menjadi sebab keselamatan kita. Karena itu, teruslah berbuat baik dan jangan mudah berputus asa.
Menjadikan Shalawat sebagai Kebiasaan Sehari-hari
Kisah As-Syibli dapat menjadi motivasi untuk memulai kebiasaan sederhana.
Setelah selesai shalat fardhu, luangkan waktu sejenak. Jangan langsung sibuk dengan urusan dunia. Duduklah dengan tenang, berdzikir, berdoa, membaca Al-Qur'an, kemudian bershalawat kepada Rasulullah SAW.
Tidak harus langsung dalam jumlah yang banyak.
Yang paling penting adalah istiqamah.
Sebab perjalanan menuju kebaikan bukan perlombaan siapa yang paling cepat, tetapi tentang siapa yang mampu terus berjalan sampai akhir.
Jika hari ini kita baru mampu membaca beberapa kali shalawat, lakukan dengan penuh cinta. Jika besok mampu menambahnya, maka tambahkan.
Jika suatu hari sedang lelah, jangan tinggalkan semuanya. Pertahankan meskipun sedikit.
Semoga kebiasaan kecil tersebut menjadi sebab hati semakin dekat kepada Allah SWT dan semakin mencintai Rasulullah SAW.
Penutup: Cinta yang Dibuktikan dengan Istiqamah
Kisah Abu Bakr As-Syibli dalam Nashâihul ‘Ibâd merupakan kisah penuh hikmah tentang kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Dalam kisah tersebut, Imam Ibnu Mujahid melihat dalam mimpinya Rasulullah SAW menyambut As-Syibli dan mencium keningnya.
Ketika ditanyakan sebabnya, jawaban yang dinukil berkaitan dengan kebiasaan As-Syibli membaca dua ayat terakhir Surah At-Taubah setelah shalat fardhu dan melanjutkannya dengan shalawat kepada Rasulullah SAW.
Kisah ini hendaknya menjadi motivasi, bukan alasan untuk merasa sudah mendapatkan kedudukan tertentu.
Mimpi dan kisah kerohanian seperti ini berada dalam ranah hikayat yang dinukil dalam kitab ulama, sehingga yang paling penting bagi kita adalah mengambil ibrah dan dorongan untuk beramal, bukan memastikan kedudukan seseorang berdasarkan mimpi tersebut.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai Rasulullah SAW dengan sebenar-benarnya cinta. Bukan hanya melalui ucapan, tetapi juga dengan mengikuti akhlak, sunnah, dan ajaran beliau.
Mari mulai dari amalan yang sederhana.
Perbanyak shalawat.
Jaga istiqamah.
Cintai Rasulullah SAW.
Sebab bisa jadi, amalan kecil yang kita lakukan dengan ikhlas hari ini menjadi salah satu sebab datangnya rahmat Allah SWT di kemudian hari. []
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

0 Komentar